Halaman

Rabu, 28 Maret 2012

77 Habits : More Then Just Highly Effective People…

Buku ini bukan hanya sebatas buku yang dibaca, bahkan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan 7 habits (yang kemudian menjadi 8 habits) juga laris manis diikuti oleh berbagai kalangan di seluruh dunia. Buku dan pelatihan tersebut juga popular di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Malaysia dan Indonesia.

Saya tidak mempermasalahkan buku tersebut maupun popularitasnya, saya hanya ingin menjadikannya sebagi pembanding bahwa ada kehausan di masyarakat dunia untuk meningkatkan kwalitas hidupnya. Kehausan semacam ini yang kemudian di respon oleh penulis seperti Steven R. Covey melalui buku-buku dan pelatihan-nya tersebut.

Bagi kita umat Islam sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh mencari untuk perbaikan diri tersebut. Contoh sempurnanya sudah ada, dan jabaran detilnya-pun sudah ditulis oleh para ulama salaf. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dan contoh-contoh tersebut – insyaallah kita sudah akan menjadi generasi unggulan yang melebihi highly effective people yang dicoba untuk dihasilkan oleh Steven R. Covey tersebut.

Untuk standar generasi unggulan itu seperti apa misalnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi kita standarnya : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )(Hadits Bukhari & Muslim).

Kemudian bagaimana menghasilkan generasi seperti ini ?, jawabannya juga sudah di formulasikan oleh ulama terdahulu seperti yang diungkapkan oleh Imam Malik Rahimahullah : Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)" dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

Lantas karakter seperti apa yang dimiliki para generasi awal tersebut sehingga mereka unggul dibandingkan kita yang hidup di jaman ini ?. Yang jelas adalah karakter keimanannya. Maka apabila umat ini ingin mencapai keunggulan mendekati generasi-generasi awal tersebut, penguatan iman-lah jawabannya.

Untuk iman ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari dengan narasi yang berbeda meng-indikasikan bahwa Iman itu ada 70 lebih cabang dan malu adalah termasuk iman”. Ulama hadits dari generasi awal – Imam Al-baihaqi,  kemudian menjabarkannya dalam 77 aplikasi iman. 

Maka itulah salah satu sumber-sumber autentik yang sudah seharusnya menjadi pilihan dalam pembinaan diri generasi ini mulai dari anak-anak, remaja sampai kita orang tua. Bila kita dididik dengan kekuatan iman yang mendekati generasi terbaik di jaman Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau, maka insyaallah kwalitas generasi ini juga akan bisa mendekati kwalitas generasi awal tersebut.

7 habits (atau 8 habits) yang menghebohkan dunia tersebut diatas misalnya, itu hanya sebagian kecil dan dengan mudah dapat ditemukan kesetaraan maksudnya di antara 77 cabang iman yang diuraikan oleh Imam- Al-Baihaqi.

Habit 1 Proactive ; otomatis orang akan proaktif bekerja/beramal bila dia meninggalkan perbuatan yang sia-sia – yaitu salah satu cabang dari 77 Iman.

Habit 2 begin With End ; umat ini memiliki tujuan hidup yang jauh lebih mulia dan lebih panjang kedepan, tidak terbatas pada kehiduan dunia – tetapi sampai akhirat – iman pada hari akhir jawabannya.

Habit 3 First Thing First ; mementingkan yang utama, ini ada di banyak cabang iman antara lain termasuk meninggalkan perbuatan sia-sia di no 1.

Habit 4 Win-Win ; ini juga tercover di sejumlah cabang iman seperti menjaga lisan, menutupi aib orang lain, menjaga harta orang lain, amanah dlsb.

Habit 5 : Understanding then to be understood ; ini tercover di ahlak mulia dan beberapa cabang iman lainnya.

Habit 6 : Synergize ; ini tercover dalam tolong menolong dalam kebajikan dan takwa dlsb.

Habit 7 : Sharpen The Save ; dalam hidup kadang kita perlu mengisi ‘baterei’ – agar tidak jenuh, tidak suntug atau  mentog. Inipun ada di sebagian cabang-cabang iman yang banyak dilantunkan di pesantren-pesantren jawa ‘Tombo Ati Iku Limo’…baca Al-Qur’an, sholat malam, puasa, bergaul dengan orang shaleh dan banyak mengingat Allah (berdzikir).

Bahkan ketika Steven R. Covey menyempurnakan dengan habit yang ke 8 from the effectiveness to greatness, untuk kita Allah sendiri yang menjanjikan derajat  paling tinggi bila kita bener-bener beriman, artinya memahami, meyakini dan mengamalkan 77 cabang iman tersebut sehingga sampai menjadi kebiasaan kita – yang di barat disebut  habits itu.

Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman” (QS 3 : 139).

Jadi jangan mudah nggumun dengan sumber-sumber pemberdayaan diri yang berasal dari luar Islam, kita memiliki sumber yang jauh lebih sempurna dan agung – asal kita mau menggalinya, memahaminya, meyakininya dan mengamalkannya.

Memang harus kita akui bahwa karya-karya agung ulama kita dari generasi awal seperti karya Imam Al-Baihaqi tersebut diatas  harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah untuk dipahami umat jaman ini- sesuai dengan problema hidup dan perkembangan jaman dimana kita berada – agar mudah dipahami, diyakini, diamalkan dan dibiasakan pada diri kita dan bahkan juga diajarkan ke orang lain.

Saat ini team kami di Yayasan Al-fatih Pilar Peradaban sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk pembelajaran Iman tersebut untuk tiga tingkatan yaitu anak-anak, remaja dan dewasa. Target-nya bukan hanya untuk dipahami tetapi harus sampai bisa mendarah daging menjadi kebiasaan dan sampai membentuk karakter keimanan kita.

Insyaallah nanti umat bisa menghadiri majlis-majlis di masjid-masjid sampai workshop-workshop di perkantoran untuk proses pembelajaran dan internalisasi iman ini. Kalau orang rela membayar mahal untuk meng-upgrade diri atau perusahaan meng-upgrade karyawannya, mengapa tidak untuk yang lebih murah atau bahkan gratis untuk sesuatu yang dampaknya akan jauh lebih efektif.

Itulah program Quantum (leap) Iman yang insyaAllah bisa membawa lompatan besar pada kwalitas generasi ini dan sesudahnya. Lompatan kekuatan fisik kita siapkan dengan  project Alfaafa , lompatan secara ke-Imanan kita siapkan dengan Quantum Iman.

Bila umat lain yang konon sudah cukup efektif dengan 7 atau 8 habit-nya; kita punya hampir sepuluh kalinya. Maka bukan kebetulan bila Allah juga menjanjikan kekuatan orang beriman itu sesungguhnya adalah 10 kali dari kekuatan orang yang tidak beriman.

“… Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu …” (QS  8 : 65).

Maka jangan puas dengan 7 atau 8 habits; kita punya 77 habits  yang siap untuk dipelajari, diyakini, di amalkan/dibiasakan dan diajarkan…. InsyaAllah !.

Kurikulum Kehidupan : Agar Hidup Senantiasa Lebih Baik…

Tahun 1997-1998 Indonesia mengalami krisis yang sangat berat, awalnya adalah krisis ekonomi, krisis daya beli uang yang kemudian popular dengan sebutan krisis moneter (krismon).  Tetapi kemudian berujung pada krisis politik, berupa krisis kepercayaan yang ditandai dengan berakhirnya rezim orde baru yang telah bercokol 32 tahun di negeri ini. Kini 14 tahun kemudian, apakah kondisi mayoritas rakyat negeri ini lebih baik dari saat itu ?.

Bila dilihat dari sisi ekonomi, khususnya dalam bentuk pendapatan per kapita memang seolah terjadi peningkatan yang luar biasa. Pendapatan per kapita rakyat Indonesia tahun 1998 adalah sekitar US$ 1,200; melonjak tiga kalinya tahun lalu menjadi di kisaran US$ 3,600. Tetapi mengapa rakyat tidak merasa tambah makmur ?, ya karena daya beli uang yang dipakai untuk mengukur kesejahteraan tersebut terus merosot – baik itu Rupiah maupun US$.

Harga emas dunia tahun 1998 di kisaran US$ 300/Ozt, naik lebih dari 5 kalinya menjadi di kisaran US$ 1,600/Ozt tahun lalu. Dinar pada awal tahun 1997 adalah di kisaran Rp 130,000; kemudian melonjak pada saat krismon 1998 menjadi di kisaran Rp 400,000 dan kini juga melonjak lebih dari lima kalinya sejak 1998 – menjadi di kisaran Rp 2,200,000.

Kalau kita gunakan indikator harga emas atau Dinar sebagai cerminan inflasi harga barang-barang – karena Dinar terbukti setara 1 ekor kambing Qurban selama 1,400 tahun lebih, maka dengan mudah kita bisa memahami mengapa mayoritas rakyat tidak mengalami perbaikan kesejahteraan setelah 14 tahun era reformasi. Pendapatan rata-rata mereka naik tiga kalinya, tetapi harga barang-barang naik lima kalinya !.

Ini baru dari satu sudut pandang saja yaitu sudut pandang ekonomi. Bagaimana dengan sudut pandang yang lain seperti politik, sosial, disiplin masyarakat, kepatuhan hukum, keimanan dlsb. apakah lebih baik ?, biarlah para peneliti dan diri kita sendiri yang menjawabnya dengan jujur.

Ada do’a yang indah yang rata-rata dicantumkan di halaman akhir Al-Qur’an yaitu Do’a Khatmil Qu’ran, yang penggalan artinya kurang lebih ada yang berbunyi begini :

Ya Allah…, jadikalnlah kehidupan hamba agar senantiasa lebih baik…Ya Allah jadikanlah umur terbaik hamba di ujungnya, jadikanlah amal terbaik hamba di penutupnya…”.

Tetapi tentu ber-do’a harus diberengi dengan ikhtiar agar kehidupan kita bener-bener bisa senantiasa lebih baik. Bila faktanya selama 14 tahun rata- rata kita tidak lebih baik, bisa jadi karena kita kurang berusaha, kurang berdo’a atau bahkan kurang keduanya.

Masalah yang sama misalnya harga BBM, tetap selalu disikapi sama oleh pemerintah dan oleh rakyat. Pemerintah selalu ber-argumen tidak punya jalan lain kecuali menaikkan BBM, sedangkan rakyat menjerit karena setiap kali kenaikan BBM selalu diikuti oleh lonjakan beban biaya hidup. Bila tidak ada perbaikan dalam hal ini, maka sampai kapanpun akan terus begini, pemerintah tidak memiliki solusi (selain dengan menaikkan harga !) dan rakyat yang harus menanggung beban akibatnya.

Pertanyaannya apakah benar tidak ada solusi itu ?, bukankah Allah selalu menjanjikan jalan keluar bagi orang yang tertakwa (QS 65:2). Apakah kita belum termasuk kelompok orang-orang yang yang dijanjikan jalan keluar tersebut ?. Bisa jadi ini juga masalahnya. Ada prasyarat untuk mencapai derajat takwa ini yaitu Iman, itulah sebabnya penyebutan takwa tidak  mendahului penyebutan Iman. “Barang siapa beriman dan bertakwa…”, bukannya “barang siapa bertakwa dan beriman”.  Yang diwajibkan berpuasa untuk menjadi orang bertakwa-pun hanya orang-orang yang beriman (QS 2 :183), yang tidak atau belum beriman tidak diwajibkan berpuasa !.

Jadi sebenarnya orang tidak bisa hidup secara sekuler, melupakan iman ketika lagi beraktifitas ekonomi, politik, sosial, budaya dlsb. seolah iman hanya ada di masjid-masjid dan mushola-mushola. Bila kita melupakan iman, kita tidak akan  pernah sampai ke derajat takwa karena prasyaratnya tidak terpenuhi. Bila kita tidak sampai derajat takwa, maka tidak berlaku janjiNya di QS 65:2 bahwa pasti ada jalan keluar bagi seluruh permasyalahan hidup kita !.

Agar kehidupan kita selalu lebih baik, kita harus terus belajar memperbaikinya. Belajar juga harus dengan kurikulum yang benar agar sesuai dengan tujuannya, kurikulum inilah yang saya sebut sebagai Kurikulum Kehidupan. Bila kita ingin perbaiki ekonomi, maka tentu kita harus kuasai itu seluk beluk eknomi yang baik. Bila kita ingin perbaiki politik, maka kita juga harus membangun budaya politik yang baik, dlsb.

Tetapi itu semua tidak cukup bila Iman kita tidak bertambah baik dari waktu kewaktu. Maka di antara kurikula kehidupan itu, ada kurikulum wajibnya yaitu kurikulum Iman. Agar kemudian insyaallah kita bisa mencapai derajat takwa, agar kita diberi jalan keluar dari setiap permasalah kehidupan dan agar ketika kita menghadapNya, kita dalam kondisi beramal terbaik kita.

Lantas dimana kita bisa menempuh pembelajaran berkelanjutan dengan kurikulum Iman ini ?. Anda bisa belajar dari para ustadz atau guru ngaji yang mumpuni di sekitar Anda, bila kesulitan memperolehnya – insyaallah dalam waktu satu dua bulan kedepan kita akan me-launch pembelanjaran keimanan bagi masyarkat luas  yang kami sebut Quantum Iman. Program ini nantinya bisa dijalankan secara massal di kantor-kantor, instansi-instansi, di tempat-tempat kursus, di sekolah-sekolah, di perguruan tinggi…., dimana saja pembelajaran Iman itu di perlukan. InsyaAllah.

Kamis, 15 Maret 2012

Imunisasi Jiwa

Category: Positive Parenting | M. Fauzil Adhim
Istri saya menangis. Hari itu Fathimah, anak saya yang pertama, bercerita kepada ibunya tentang apa yang ia jumpai dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dua anak berseragam SMP berlainan jenis kelamin, menyepi berdua-duaan di lapangan dekat sekolah. Siswa laki-laki mendekatkan wajahnya sehingga keningnya bertemu dengan kening temannya yang perempuan, pipi bertemu dengan pipi, dan selebihnya saya tidak cukup tega untuk menceritakan kepada Anda.
“Terus mereka pegang-pegangan,” kata Fathimah melanjutkan, “Itu kan nggak boleh ya, Bunda?”
Istri saya tersentak. Cerita yang sama sekali tak terduga. Sama seperti pertanyaan yang datang dengan tiba-tiba, kerap membuat kita terkesiap kalau tak menyadari bahwa pertanyaan anak datangnya selalu lebih cepat daripada jawaban yang tersedia di kepala kita.
Maka sungguh, kita tak pernah cukup mengantarkan mereka dewasa kalau kita hanya mengumpulkan perbendaharaan jawaban yang berlimpah. Yang harus kita miliki adalah arah yang kuat dalam mendidik anak, cita-cita yang besar, visi yang jelas dan kesediaan untuk terus belajar. Kuncinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tunjukkan dalam Surat An-Nisaa’ ayat 9: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiida).”
Inilah yang harus kita berikan. Ini pula yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita. Tetapi, astaghfirullahal-‘adziim, alangkah jauh kita dari Allah. Alangkah rapuh ketakwaan kita kepada-Nya. Padahal AllahAzza wa Jalla telah menjanjikan memperbaiki amal-amal kita, tidak terkecuali dalam menyiapkan anak-anak kita menjadi kader dakwah yang iman selalu di hatinya, baik di saat tangan menggenggam dunia seisinya atau pun ketika dunia terlepas dari dirinya.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzaab: 70-71).
Jalan Terbaik
Tak ada jalan lain menghadapi cerita dan pertanyaan anak yang mengejutkan, kecuali memanfaatkan saat terbaik ini untuk memberi pengertian dan mengarahkan hatinya kepada kebaikan. Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, “seburuk apapun”, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka, jalan terbaik adalah menghargai kepercayaan dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.
Artinya, tak cukup hanya memberikan jawaban sehingga anak paham atau justru menimbulkan pertanyaan baru yang lebih membingungkan. Lebih dari itu, kita memberi jawaban sembari menumbuhkan pada dirinya amanah untuk bertindak. Amanah yang kelak Allah akan minta ia untuk mempertanggungjawabkan.
Mendengar cerita anak saya, istri saya kemudian berkata dengan suara yang dalam dan berat. Ia ajak Fathimah mendekat, sehingga adik-adiknya juga tertarik untuk mendekat.
“Fathim,” kata istri saya menahan tangis, “mereka sebenarnya sedang berbuat dosa. Di antara mereka ada yang tidak tahu kalau itu perbuatan dosa karena mereka tidak pernah belajar agama. Tetapi ada juga yang sudah tahu. Mereka mengerti kalau perbuatan itu dosa, tetapi tidak mau mentaati.”
“Kalau mereka mengerti, kenapa mereka tetap berbuat yang nggak baik? Kan mereka bukan muhrim, Bunda?” Fathim bertanya.
“Nak, untuk taat tidak cukup hanya mengerti. Mereka mungkin ingin menjadi orang yang baik dan tidak berbuat dosa. Tetapi mereka tidak kuat menahan godaan,” kata istri saya.
“Memangnya mereka digoda? Siapa yang menggoda? Kan setannya nggak kelihatan,” tanya Husain menyergah.
Anak yang kedua ini memang sering membuat kejutan dengan pertanyaan yang kritis. “Kelihatan, Nak. Setan itu kadang menggoda lewat bisikan hati, kadang melalui manusia, kadang melalui televisi,” kata istri saya menerangkan.
Kemudian ia mengajak anak-anak berdiskusi tentang apa yang pernah mereka lihat di televisi, meski kami lebih memilih untuk tidak punya televisi di rumah. Tetapi bukankah di kereta api milik PJKA pun kadang tayangan yang disajikan sangat merusak mental anak? Bukankah di bandara pun pesawat televisi senantiasa menyala-nyala?
Istri saya bertutur kepada mereka, seandainya televisi menayangkan program-program yang baik untuk menambah keimanan dan kemuliaan, insya Allah, di rumah akan ada TV. Tetapi tayangan-tayangan di TV memang lebih banyak sampahnya daripada manfaatnya.
“Tapi kan kita bisa melihat berita?” tanya anak saya.
“Iya, Nak. Tetapi di televisi lebih banyak gosip daripada berita. Kalau mau mencari berita, kita bisa baca di koran. Setiap hari di rumah kan sudah ada tiga koran, bisa kita baca. Itu pun kita harus berhati-hati. Tidak boleh langsung percaya,” istri saya menjelaskan.
Istri saya lalu bercerita tentang James Yee, ulama Muslim militer Amerika yang menjadi korban paranoid pemerintah Amerika Serikat. Ia memang baru saja selesai membaca buku For God and Country yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ia bercerita kepada anak-anak bagaimana James Yee difitnah, dipenjara, dan dianiaya hanya karena ia seorang Muslim. Media massa Amerika sempat menulis berita yang menjelek-jelekkan James Yee.
“Karena itu Nak, kalian semua harus menjadi orang-orang cerdas. Kalian semua harus memiliki iman yang kuat. Kalian semua harus menjadi manusia-manusia cemerlang yang bisa menolong agama Allah,” kata istri dengan mata yang berkaca-kaca.
Kemudian ia mengusap kepala anak saya yang kelima, Muhammad Navies
Ramadhan, sembari berkata, “Kelak, kamu harus memiliki bisnis yang besar. Dunia ada di tanganmu, Nak. Tetapi di hatimu hanya ada cinta kepada Allah.”
Anak-anak kami yang lain menatap. “Aku, Bun? Kalau sudah besar aku juga bisnis?” tanya Husain.
“Iya, Nak. Mukmin yang baik adalah yang paling kuat. Kuat imannya, kuat badannya, kuat usahanya, kuat segala-galanya,” kata istri saya, “Namamu Muhammad Husain As-Sajjad. Ahli sujud. Jadi apa pun kamu nanti, semuanya untuk bersujud kepada Allah.”
Istri saya kemudian menengok kepada anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin, “Kamu, Nak. Semoga kelak kamu seperti namamu, menjadi hadiah bagi orangtua dengan dua kebaikan. Kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,” kata istri saya.
Airmatanya semakin tak bisa ditahan, meski belum jatuh.
“Dan kamu, namamu Muhammad Nashiruddin An-Nadwi. Kelak, jadilah kamu penolong agama Allah,” ucap istri saya.
Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan suaranya parau menahan tangis.
“Nak, ibu kadang-kadang melihat apa yang kamu lihat saat di perjalanan,” kata istri saya sembari menuturkan sebagian pengalamannya, “Ibu lalu berdoa sambil menangis dalam hati, ‘Ya Allah, lindungilah anak-anak kami dari keburukan dan kejahatan. Ya Allah, jadikanlah mereka anak-anak yang bisa meninggikan kalimat-Mu. Ya Allah, jadikanlah mereka ahli berbuat kebaikan.’”
Istri saya menangis. Anak-anak saling berpandangan.
Husain lalu berkata, “Jadi, airmata jatuh ke dalam hati?
Istri saya terdiam.
Satu pelajaran telah kami ambil. Anak-anak harus diberi imuniasasi jiwa. Bukan sterilisasi. Tetapi untuk melakukan imunisasi, jarum suntiknya harus steril. Dan jarum suntik itu adalah pendidikan.*

Pagi Tanpa Riya’


Category: Muhasabah
Bangun pagi sebelum shubuh itulah kebiasaan muslim. Bersama pagi banyak ibadah yang bisa muslim lakukan. Seperti pagi ini, bangun dan bergegas dalam ibadah. Witir dan tahajjud semoga tak terlupa. Kini, shalat shubuh, tilawah dan dzikir pagi.
Alhamdulillah semoga kita senantiasa terjaga hati, istiqamah dan ibadah semata-mata karena Allah kita melakukannya. Ya, ibadah sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan. Jauh dari riya’
Allah swt berfirman, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (Al Maa’uun : 4-7)
Rasulullah  saw. bersabda, “Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik al asghar (syirik kecil), yaitu riya’. Pada hari Kiamat Allah berfirman ketika membalas amal-amal perbuatan manusia, ’Pergilah kalian kepada orang orang yang kalian pamerkan sewaktu di dunia. Lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan (bagian) dari mereka’.” (HR. Imam Ahmad)
Saudaraku, ini peringatan dari nabi, sekaligus kabar bahwa diantara manusia ada yang terperangkap dalam lubang ini, riya’. Padahal, kata nabi, riya termasuk syirik. Syirik yang menjadikan amal kita sia-sia.
Ahli hikmah mengibaratkan, orang yang riya’ seperti orang yang pergi ke pasar yang kantongnya diisi penuh dengan batu. Tujuannya, agar orang-orang melihatnya dengan kagum dan menyangka kantongnya penuh dengan uang.
Artinya, aktifitas apapun terutama ibadah, yang dilakukann sekalipun banyak, sungguh-sungguh, melelahkan, dan bahkan mengorbankan jiwa raga menjadi sia-sia jika ada riya’ yang mengikutinya. Karena riya’ itulah Allah tidak memberi balasan pahala, sebab yang diharapkan adalah pujian manusia.
Lalu seperti apa riya’ itu? Biarlah Ali bin Abi Thalib yang menjawabnya. Menurut Ali, ada empat ciri-ciri orang yang riya’. Pertama, ketika sendirian malas beramal; kedua, semangat beramal saat dilihat banyak orang; ketiga, bertambah amal jika di puji; dan keempat, mengurangi amal jika dicela orang.
Nah saudaraku, adakah satu atau lebih ciri-ciri riya’ itu ada dalam diri kita? Jika ada, waspadalah. Segera obati agar kerugian tidak menimpa kita.
Dan, inilah obat dari riya’ itu. Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata, “Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar, jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)”.
Ya Rabb terima amal-amal kami. Jauhkan kami dari riya’, ujub dan sum’ah. Jadikanlah amal-amal kami ikhlas semata-mata hanya mengharapkanMu. Aamiin.(Harits Purnama)

Sekolah yang Menggairahkan


Perkembangan otak yang paling pesat terjadi pada rentang usia 0-8 tahun, baik secara fisik maupun intelektual. Delapan puluh persen perkembangan otak terjadi antara usia nol sampai dengan enam tahun.Selama rentang waktu tersebut, IQ anak dapat melonjak secara drastis jika memperoleh rangsangan yang tepat dari orangtua maupun pengasuh di day-care –kita menyebutnya TPA—dan play-group. Selanjutnya, peran strategis tersebut dipegang oleh guru TK dan SD kelas bawah, yakni kelas satu sampai dengan kelas tiga (itu sebabnya, perencanaan kurikulum TK perlu dikerjakan bersama dalam satu kesatuan dengan penyusunan kurikulum SD). Inilah masa paling penting untuk memba­ngun budaya belajar. Jika pada masa ini anak sudah memiliki budaya belajar yang tinggi, anak akan mudah mempelajari kecakapan belajar (learning skills) pada pe­riode berikutnya, yakni orientation stage, termasuk membangun orientasi hidup maupun ori­entasi akademiknya.
Jadi, yang perlu kita bangun pada masa awal perkembangan anak di sekolah adalah budaya belajar (learning culture). Bukan sekedar kebiasaan belajar (learning habit) dimana anak belajar karena sekolah memang menciptakan lingkungan akademik yang menuntut anak belajar, termasuk di dalamnya memberikan tugas-tugas. Setingkat lebih baik adalah munculnya ke­biasaan belajar karena lingkungan akademik yang merangsang gairah anak belajar. Anak bersemangat di sekolah sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan.
Apakah sebenarnya semangat itu? Keterlibatan emosi saat melakukan suatu kegi­atan sehingga kita merasakan situasi yang mengalir. Keadaan ini bisa terjadi karena hati kita yang gembira, peristiwa sebelumnya yang meluapkan perasaan positif, suasana yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan antusiasme yang menyala-nyala, rancangan ling­kungan fisik sekolah yang menggugah, dan berbagai aspek lain yang mempengaruhi emosi saat belajar. Semakin tinggi keterlibatan emosi saat belajar, semakin efektif otak kita bekerja. Belajar seharian penuh, tetapi anak merasakannya seperti bermain. Asyik dan menyenang­kan.
Sekolah yang menerapkan model belajar sehari penuh (full day), harus memperha­tikan ini. Sekolah harus merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, antusias dan positif agar anak memiliki semangat menyala-nyala saat belajar. Jika tidak, anak bisa meng­alami stress karena beban belajar yang melampaui “ambang kesanggupan mental”. Stress yang berlangsung secara terus-menerus bukan saja melemahkan kemampuan anak. Lebih dari itu, stress berkelanjutan merusak mental dan kepribadian.
Nah.
‘Alaa kulli hal, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Suasana belajar yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan penuh antusiasme dan rangsangan fisik sekolah yang menggugah memang mempengaruhi emosi anak. Mereka belajar dengan penuh sema­ngat. Tetapi semangat yang meluap-luap hanyalah bekal awal. Perlu ada upaya terencana membangun motivasi anak –tidak terkecuali guru—sehingga melahirkan budaya belajar yang kuat.
Istilah motivasi sering jumbuh dengan semangat. Saya sendiri kadang mengguna­kan dua istilah tersebut secara tidak tepat. Jika semangat adalah keterlibatan emosi saat me­lakukan aktivitas, maka motivasi adalah alasan yang menggerakkan seseorang untuk bertin­dak. Semakin kuat motivasi seseorang, semakin menyala semangatnya. Artinya, motivasi me­rupakan salah satu faktor pemacu semangat anak. Semakin kuat motivasi, semakin menyala-nyala semangat dalam diri anak.
Budaya belajar (learning culture) sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi. Jika a­nak memiliki alasan yang kuat untuk bertindak, dan alasan itu mengakar dalam dirinya, maka ia akan memiliki energi untuk terus belajar. Semakin kuat ia membentuk budaya belajar da­lam dirinya, semakin tangguh semangatnya menggali ilmu meskipun lingkungan sekeliling tak sebaik dulu. Ini berarti, kuatnya budaya belajar menjamin berlangsungnya kebiasaan be­lajar (learning habit) hingga jenjang pendidikan berikutnya, meskipun suasana belajar di jen­jang tersebut tak sebaiknya jenjang sebelumnya.
Inilah yang perlu kita sadari ketika ingin mengembangkan budaya belajar. Lingkung­an yang mendukung memang sangat perlu. Guru-guru yang ramah, hangat dan bersahabat juga tak dapat ditawar-tawar. Begitu pula lingkungan fisik sekolah yang merangsang minat belajar, betapa pun sederhananya, sangat diperlukan.
Tetapi…
Tanpa membangun motivasi intrinsik yang kuat, anak-anak itu bisa kehilangan gai­rah belajarnya –bahkan perilaku positifnya—begitu mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika masih berada di jenjang sekolah dasar, semangat belajarnya sangat tinggi dan prestasi akademiknya menakjubkan. Begitu memasuki jenjang pendidikan berikut­nya, minat belajar ambruk dan perilakunya kurang terarah karena –misalnya—anak kecewa dengan sekolah barunya.

Pada kasus seperti ini, kita bisa menyalahkan jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi
sekolah sebelumnya, yakni SD, tetap ikut bertanggung-jawab atas kegagalannya membangun motivasi siswa. Keadaan ini bisa terjadi, antara lain karena pihak SD tidak bisa membedakan –atau sengaja tidak membedakan—antara kebiasaan belajar dan budaya belajar. Mirip sekali wujudnya, lain sekali hakekatnya.
Apa yang diperlukan untuk membangun motivasi intrinsik anak? Banyak hal. Yang sangat pokok adalah menanamkan keimanan yang aktif. Maksud saya, sekolah mengajarkan ‘aqidah kepada anak bukan hanya sebagai pengetahuan kognitif. Lebih dari itu, sebagaimana sifat ayat-ayat yang pertama diturunkan –secara umum ayat-ayat Makkiyah—menggerakkan mereka untuk bertindak karena Allah dan untuk Allah Yang Menciptakan. Sekolah mengge­rakkan jiwa anak-anak untuk meneguhkan diri bahwa shalatnya, ‘ibadahnya, hidupnya dan matinya hanya karena dan untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata.
Artinya, ‘aqidah yang kuat menjadi daya penggerak (driving force) bagi anak untuk bertindak dan menentukan arah hidup.
Agar guru mampu menanamkan keimanan yang aktif dengan ‘aqidah shahihah, tak dapat ditawar-tawar lagi ‘aqidah mereka juga harus kuat. Sedemikian kuatnya sehingga keti­ka berbicara, yang berkelebat dalam benaknya bukan sekedar teknik berbicara, tetapi sudah menyatu dalam dirinya kata-kata bertenaga yang menggelorakan motivasi anak-anak dan membakar semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. Kata-kata ini mengalir setiap saat karena memang sudah menyatu dalam diri guru.
Di luar itu, secara terencana sekolah dapat mengadakan kegiatan yang secara khu­sus dimaksudkan untuk membangun motivasi anak, baik yang bersifat harian, mingguan, bu­lanan, tahunan atau berdasar rencana kegiatan insidentil. Motivasi harian misalnya diwujud­kan dalam bentuk kegiatan apel motivasi setiap pagi.
Selebihnya, guru perlu memberi tantangan yang cukup agar motivasi tersebut ter­tanam lebih kuat. Tanpa tantangan, anak tidak belajar hidup dalam “dunia nyata”. Apalagi jika mereka hanya kita besarkan dengan fasilitas, tanpa tantangan akan membuat mereka se­perti ayam sayur. Bukan ayam kampung yang tak jatuh oleh panas dan tak tersungkur oleh hujan.
Artinya, harus ada keseimbangan antara fasilitas dan tantangan. Awalnya tantang­an sederhana yang bersifat fisik, lalu secara berangsur kita hadapkan pada tantangan yang lebih memeras pikiran dan tenaga. Pada akhirnya, kita tumbuhkan pada diri mereka kepekaan untuk membaca tantangan bagi keyakinan dan ummat ini.
Wallahu a’lam bishawab.

Sekolah yang Mencerdaskan


Mencerdaskan anak bukanlah tugas utama sekolah. Tugas sekolah adalah membentuk pribadi yang memiliki integritas moral sangat tinggi, berakhlak mulia dan produktif dikarenakan kuatnya keyakinan yang berpijak pada fondasi bernama aqidah. Bersebab pada kuatnya aqidah, sekolah juga berkewajiban membakar semangat mereka sehingga akan lahir pemuda-pemuda yang hidup jiwanya dan jelas arah hidupnya. Begitu mereka memiliki motivasi yang kuat dan semangat yang menyala-nyala, maka mereka akan memiliki tekadi besar untuk mencapai apa yang sungguh-sungguh bermanfaat baginya. Ia memiliki daya tahan untuk terus gigih ketika yang lain sudah mulai berguguran. Ia memperoleh makna atas setiap tindakan yang secara sengaja dilakukannya untuk mencapai apa yang baik dan penting. Insya-Allah!
Semangat yang berkobar-kobar memungkinkan seseorang mencapai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bermanfaat. Saya perlu menambahkan kata bermanfaat karena kepekaan terhadap apa yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi diri sendiri dan terutama bagi umat manusia, hari ini sangat sulit kita dapati (bahkan mungkin pada diri kita sendiri). Sebabnya, mereka memang tidak memperoleh pengalaman belajar yang secara sengaja menumbuhkan kepekaan mereka. Alih-alih mengembangkan kapasitas mental, anak-anak itu justru mengalami penganiayaan akademik dalam bentuk pembebanan target-target penguasaan secara kognitif materi-materi pelajaran, terutama yang menjadi materi ujian nasional. Padahal penguasaan materi pelajaran seharusnya merupakan akibat saja dari berkobarnya semangat dan kepekaan terhadap apa yang bermanfaat bagi umat manusia.
Inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita. Kita dorong mereka untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan karena itu mereka harus bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat baginya. Ada sebuah hadis yang perlu kita renungkan. Rasulullah saww. bersabda, “Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini dan begini.” Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki, maka itu terjadi.” Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim).
Ya, bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu. Tapi mengapa anak-anak tidak peka terhadap apa yang bermanfaat bagi dirinya? Karena sekolah tidak mengajari mereka tujuan hidup, empati dan integritas. Mereka juga tidak belajar merumuskan visi hidup yang jelas. Mereka hanya dipacu untuk berhasil menciptakan nilai bagus saat ujian. Ironisnya, tidak sedikit orangtua maupun sekolah yang masih berorientasi pada ujian, sehingga tidak mendorong anak untuk “belajar” kecuali saat menghadapi ujian. Mereka tidak mendorong anak haus ilmu dan mengembangkan kecakapan yang bermanfaat. Apatah lagi alasan yang menggerakkan diri untuk berbuat sehingga setiap hal jadi bermakna, sangat jarang disentuh.
Para orangtua dan guru sering menyuruh anak belajar agar pintar. Tetapi mereka tidak mengajarkan untuk apa pintar, atau kepintaran itu seharusnya dipergunakan untuk apa. Lebih ironis lagi, pintar itu sama dengan angka 8, angka 9 untuk yang sangat pintar dan 10 untuk yang luar biasa pintar. Darimana angka itu diperoleh, tidak penting lagi. Dan di sinilah bencana itu bermula. Anak belajar melakukan penipuan bernama mencontek –satu bentuk kejahatan yang lebih sering kita sebut kelalaian.
Apa yang ingin saya sampaikan? Sudah saatnya kita merenungkan kembali pendidikan kita. Tugas sekolah adalah mengantarkan anak didik untuk menjadi manusia, mengerti tugas hidupnya dan mampu memberi manfaat bagi umat manusia. Kita rangsang mereka untuk mampu memegangi nilai hidup yang menggerakkan mereka untuk bertindak. Artinya, nilai hidup itu haruslah menjadi daya penggerak bagi hidup mereka. Bukan sekedar untuk menjadi bahan hafalan yang dicerna secara kognitif belaka. Lebih-lebih jika hanya pada tataran kognitif terendah.
Sekedar menyegarkan ingatan, Benjamin S. Bloom membagi secara berjenjang kemampuan kognitif dalam sebuah taksonomi yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Ada enam jenjang, yakni pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan jenjang tertinggi adalah penilaian. Kemampuan taraf terendah lebih mengacu pada kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari secara tepat. Pada taraf ini, meskipun kemampuan mengingatnya sangat tinggi sehingga mampu menjawab soal-soal yang diajukan, tidak membuat seseorang mampu memahami prinsip-prinsip serta mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dengan mudah akan mengenali dan menguasai apa-apa yang prinsipnya sama maupun mirip.
Bimbingan belajar intensif umumnya hanya berurusan dengan kemampuan kognitif jenjang terendah. Mereka terlihat pandai, tetapi diam-diam membawa resiko serius, yakni tidak berkembangnya kemampuan kognitif pada jenjang di atasnya. Inilah yang sebenarnya tidak boleh terjadi! Itu sebabnya sekolah harus berpikir serius bagaimana memacu prestasi siswa tanpa melakukan penganiayaan akademik, yakni proses pembelajaran yang hanya memperhatikan kemampuan kognitif terendah sebagai pembebanan. Sangat berbeda nilainya antara pembebanan dengan motivasi. Mengejar anjing membangkitkan semangat berkobar ketika nyaris berhasil. Tetapi dikejar anjing sangat menguras tenaga dan membunuh antusiasme, justru ketika berhasil.
Tentu saja bukan berarti ujian akhir nasional tidak boleh ada. Jika sekolah kita memang baik, tidak ada alasan untuk menangis mendengar genderang ujian nasional ditabuh. Justru kita ditantang untuk menunjukkan bahwa pola pendidikan yang kita jalankan, benar-benar mampu mengantarkan siswa meraih sukses secara akademik. Nilai ujian memang tidak boleh menjadi tujuan. Ini musibah besar kalau siswa belajar di sekolah selama enam atau tiga tahun hanya untuk mengejar nilai enam mata pelajaran. Tetapi ujian akhir nasional merupakan parameter sederhana seberapa baik kita menanamkan dasar-dasar kemampuan akademik pada siswa. Artinya, prestasi cemerlang di ujian akhir nasional hanyalah konsekuensi logis pendidikan yang baik.
Berkenaan dengan prestasi akademik ini, ada baiknya kita berbincang sejenak ten¬tang empat tujuan operasional pendidikan. Secara ringkas, mari kita cermati satu per satu:
1. Mastery Goals, proses pembelajaran membuat siswa mampu menguasai mata pelajaran yang diajarkan dengan sangat baik. Siswa mampu memahami prinsip-prinsip, teori dan konsep matematika sehingga mampu memecahkan problem matematika dengan baik.
2. Performance Goals, proses pembelajaran –apa pun mata pelajarannya—harus membuat siswa mampu melakukan aktivitas atau mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Artinya, apa pun mata pelajarannya harus menjadikan siswa sebagai orang yang mampu menyelesaikan tugas-tugas dengan baik, bukan hanya tugas akademik.
3. Social Goals, proses pembelajaran di sekolah secara keseluruhan dimaksudkan untuk membekali siswa dengan kecakapan sosial, termasuk di dalamnya kepekaan sosial dan hasrat untuk memberi manfaat secara sosial. Sekurang-kurangnya, proses pembelajaran menjadikan siswa mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sosialnya maupun orang-orang yang baru ditemui.
4. Affective Goals, pendidikan adalah proses yang membentuk kekuatan emosi siswa sehingga menjadi pribadi yang empatik, mampu mengendalikan emosi, dapat menunda kesenangan (delayed gratification) demi memperoleh tujuan yang jauh lebih besar di masa mendatang, mampu memotivasi diri sendiri dan memiliki penghayatan nilai yang baik.
Prestasi yang paling mudah diukur adalah kemampuan akademik yang berkait dengan tujuan operasional pertama, yakni mastery goals. Di sinilah letak kesalahan itu biasanya terjadi. Sekolah hanya menyibukkan pada proses pembelajaran yang memberi kecakapan pada siswa untuk mengerjakan soal –bahkan bukan untuk memahami dan menguasai mata pelajaran dengan baik—sehingga menyebabkan siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya secara utuh. Ini juga menyebabkan kemampuan kognitif siswa bahkan tidak berkembang secara optimal. Padahal, alur yang seharusnya justru kita mulai dari penguatan tujuan afektif dengan mengasah kepekaan, empati, membangun kecerdasan emosi, menata orientasi hidup serta meletakkan visi hidup yang kuat.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar anak-anak memiliki visi hidup yang kuat? Apa yang harus kita rombak dalam proses pendidikan di sekolah? Apakah kita perlu melakukan reformasi total pada sistem pendidikan kita?
Tidak. Reformasi tanpa melakukan perubahan cara pandang dan sikap, hampir pasti tidak akan membawa hasil yang memadai. Perlu upaya terencana untuk mengubah cara pandang dan sikap pelaksana pendidikan secara keseluruhan, terutama guru, tidak terkecuali orangtua sebagai bagian yang tak terpisahkan. Kurikulum mungkin tidak berubah. Tetapi berubahnya cara pandang mampu menghasilkan perubahan dramatis pada antusiasme belajar, orientasi hidup, budaya belajar dan tentu saja akan berpengaruh pada prestasi akademik siswa. Proses perubahan yang lebih memusatkan perhatian pada cara pandang, sikap dan pada akhirnya perilaku inilah yang biasa disebut reinventing.
Saya ingin sekali membahas tentang reinventing sekolah bersama-sama dengan Anda. Tetapi kesempatan belum memungkinkan. Karena itu, izinkan saya menutup perbincangan kita kali ini. Satu hal, dari pembicaraan yang baru saja kita lalui, kunci untuk melejitkan kecerdasan bukan pada melatih kecakapan belajarnya, tetapi justru bagaimana menggerakkan jiwanya untuk memiliki tujuan hidup yang kuat dan kesadaran agar senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Nasehat Diri



 • Category: Muhasabah

Ibrahim bin Adham, ketika ditanya seseorang yang meminta resep agar bisa shalat malam berkata, “Jangan, bermaksiat kepada-Nya di siang hari, niscava Dia akan membangunkanmu di malam hari. Karena kehadiranmu di hadapan-Nya adalah merupakan kemuliaan. Dan orang yang bermaksiat tidak layak mendapatkan kemuliaan itu.”
Seseorang datang padan Hasan Al Bashri mengeluhkan tentang dirinya yang sulit bangun malam. “Wahai Hasan Bashri, aku mencintai shalat malam dan aku selalu tidur dalam keadaan suci, tetapi mengapa aku tidak bisa juga bangun?” Singkat Imam Hasan menjawab, “Kamu diikat oleh dosamu.”
Sufyan Tsauri bercerita, “Aku pernah tidak bisa shalat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan.” Temannya bertanya, “Dosa apa itu?” “Aku melihat seseorang menangis dan dalam hati aku berkata, ‘Orang itu menangis hanya untuk dipuji saja,’” jelas Sufyan.
Apa kabar shalat tahajjud kita? Mari merenung! Jangan-jangan dosa-dosa kita di siang hari yang menghalangi kita bangun malam.(Harits Purnama)